SUMENEP, MPD – Pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep terus meningkatkan pelayanan kesehatan dengan memperkuat upaya percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi melalui kegiatan Peningkatan Kapasitas Pendamping dan Pendampingan Ibu Hamil Risiko Tinggi (Bumil Resti) dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK). Kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian pemerintah kepada masyarakat, yang dilaksanakan pada Rabu, 8 Juli 2026, di Aula Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sumenep.
Pemkab Sumenep terus meningkatkan pelayanan kesehatan melalui DKP2KB yang dipimpin Kepala Dinkes, drg. Ellya Fardasah, M.Kes. Dengan program itu menjadi bagian dari strategi penguatan kapasitas sumber daya kesehatan di tingkat puskesmas dan masyarakat agar pendampingan terhadap ibu hamil berisiko tinggi dapat berlangsung secara optimal, sistematis, dan berkesinambungan.
Menurut keterangan drg. Ellya Fardasah, M.Kes, Kegiatan ini diikuti 110 peserta yang terdiri atas Penanggung Jawab Promosi Kesehatan (Pj Promkes), Bikor, serta kader pendamping dari empat wilayah kerja puskesmas, yakni Puskesmas Gapura, Saronggi, Bluto, dan Pragaan. Para peserta mendapatkan penguatan kompetensi.
Baca Juga: Pelayanan Humanis RSUD Sumenep Perkuat Kepercayaan Masyarakat
“Dalam pelaksanaannya, para peserta memperoleh penguatan kompetensi mengenai mekanisme pendampingan ibu hamil risiko tinggi, khususnya ibu hamil dengan kondisi Kekurangan Energi Kronis (KEK), yang memerlukan perhatian lebih selama masa kehamilan hingga persalinan,” Ujar drg. Ellya Fardasah, kepada media, Senin 20 Juli 2026.
Dirinya juga menjelaskan tentang dilakukannya kegiatan pendampingan tersebut bertujuan memastikan kesehatan dan keselamatan ibu serta janin melalui pemantauan secara berkelanjutan. Langkah ini dinilai penting untuk mendeteksi berbagai komplikasi sejak dini sehingga setiap potensi risiko dapat ditangani secara cepat dan tepat oleh tenaga kesehatan.
“Selain meningkatkan kualitas pemantauan kondisi fisik dan tanda vital ibu hamil, program ini juga diarahkan pada upaya pencegahan komplikasi kehamilan, termasuk deteksi dini faktor-faktor yang berpotensi menyebabkan stunting pada bayi sejak dalam kandungan,” pungkasnya.
Ellya Fardasah menambahkan, bahwa aspek edukasi juga menjadi bagian penting dalam pendampingan. Para kader dibekali pengetahuan mengenai pemenuhan gizi ibu hamil, persiapan persalinan yang aman, serta perawatan masa nifas. Dengan demikian, ibu hamil diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik dalam menjaga kesehatan diri dan janinnya.
Tidak hanya itu, program ini juga menekankan pentingnya sistem rujukan yang efektif. Melalui pendampingan yang terstruktur, ibu hamil dengan risiko tinggi diharapkan dapat melahirkan di fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai serta mendapatkan penanganan sesuai tingkat risiko kehamilannya.
Dinkes P2KB Kabupaten Sumenep, dalam kepemimpinan drg. Ellya Fardasah, M.Kes, terus meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Untuk itu berharap adanya kolaborasi antara tenaga kesehatan, kader pendamping, dan masyarakat merupakan kunci keberhasilan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak.
“Melalui peningkatan kapasitas pendamping ini, Dinkes P2KB Kabupaten Sumenep berharap seluruh kader mampu menjalankan perannya secara profesional dalam memberikan pendampingan kepada ibu hamil risiko tinggi. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya pemerintah daerah dalam menekan angka kematian ibu dan bayi serta melahirkan generasi yang sehat, berkualitas, dan bebas dari risiko stunting,” tegas Bu Kadis.






