MPD – Kematian merupakan satu-satunya kepastian yang tidak pernah gagal menepati janji untuk menjemput kita. Ia tidak menunggu kesiapan manusia, tidak membedakan usia, pangkat, jabatan, maupun kekayaan yang dimilikinya. Cepat atau lambat, setiap manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT akan sampai pada batas akhir kehidupan duniawi.
Dalam dinamika kehidupan modern, manusia kerap terjebak dalam ambisi duniawi. Pencapaian jabatan, kekuasaan, dan harta yang dimilikinya sering dijadikan tolok ukur keberhasilan hidup sehingga bersifat sombong. Padahal, seluruh atribut tersebut hanyalah sementara dan tidak akan dibawa ketika kematian menjemput kita. Kesadaran akan kematian menjadi pengingat paling jujur bahwa apa pun yang dimiliki hari ini pada akhirnya akan ditinggalkan semuanya.
Mengingat kematian bukanlah upaya menanamkan ketakutan, melainkan sarana membangun kesadaran moral. Kesadaran ini mendorong manusia untuk hidup lebih bermakna, berhati-hati dalam bertindak, serta adil dalam mengambil keputusan. Individu yang memahami kepastian kematian akan berpikir panjang sebelum menyalahgunakan wewenang atau menzalimi pihak lain karena hanya dendam dan kebencian, karena setiap perbuatan itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Baca Juga: Mayat Pria Tanpa Identitas Gegerkan Warga Pesisir Sepanjang
Dalam konteks sosial dan pemerintahan, pangkat dan kekuasaan pada hakikatnya adalah amanah. Jabatan bukan hak absolut, melainkan titipan yang harus dipertanggungjawabkan, tidak hanya kepada masyarakat, tetapi juga kepada Allah SWT. Setiap kebijakan dan keputusan yang diambil memiliki konsekuensi hukum, sosial, dan moral bagi orang banyak.
Ajaran agama menegaskan bahwa setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban. Kekuasaan yang dijalankan secara adil, jujur, dan bertanggung jawab akan bernilai sebagai amal kebaikan. Sebaliknya, kekuasaan yang disalahgunakan demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu berpotensi menjadi beban berat, baik di dunia maupun di akhirat.
Kesadaran akan kematian seharusnya membentuk karakter kepemimpinan yang rendah hati dan berorientasi pada pelayanan publik. Seorang pemimpin yang memahami kefanaan hidup akan lebih bijaksana, tidak arogan, serta menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi. Ia menyadari bahwa kepercayaan publik bukanlah milik pribadi, melainkan titipan yang sewaktu-waktu dapat dicabut.
Pada akhirnya, kematian menegaskan satu kebenaran fundamental: pangkat dan kekuasaan hanyalah ujian sementara. Keberhasilan sejati tidak diukur dari seberapa tinggi jabatan yang diraih, melainkan dari seberapa amanah jabatan itu dijalankan. Karena ketika ajal menjemput, yang tersisa bukanlah gelar atau kekuasaan, melainkan amal perbuatan dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.




