SUMENEP, MPD – Semangat kemanusiaan ditunjukkan oleh seorang pemuda asal Desa Aeng Merah, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep. Dengan mengadopsi jargon Bupati Sumenep “Bismillah Melayani”, Achmad Maimun mendedikasikan waktu, tenaga, dan kemampuannya sebagai relawan kesehatan yang membantu masyarakat memperoleh akses pelayanan medis tanpa memungut imbalan.
Hal itu dilakukan Maimun, karena dipicu banyak oknum duduk di pemerintahan yang sudah digaji tapi kurang peduli terhadap keluhan atau persoalan yang terjadi pada masyarakat kecil yang hidup di pedesaan. Meskipun semua fasilitas desa di beli dari uang pajak rakyat, tidak semua masyarakat bisa menggunakan, hanya orang tertentu saja yang memiliki hubungan khusus.
Di tengah tantangan kehidupan sosial yang semakin kompleks itu, kepedulian terhadap sesama menjadi nilai yang tidak mudah ditemukan. Namun, Achmad Maimun hadir memberikan teladan melalui aksi nyata dengan mendampingi warga yang mengalami kesulitan ketika hendak berobat ke puskesmas maupun rumah sakit.
Baca Juga: RSUD Sumenep Perkuat Kepercayaan Publik Melalui Pelayanan
Achmad Maimun merupakan putra pasangan Zainur Rosi dan Masleyani, keluarga petani di Desa Aeng Merah. Latar belakang kehidupan yang sederhana membentuk karakter dirinya menjadi pribadi yang pekerja keras serta memiliki kepedulian sosial tinggi terhadap masyarakat di sekitarnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan sebagai Sarjana Hukum di Universitas Wiraraja Sumenep, ia memilih memanfaatkan waktu luangnya untuk mengabdikan diri kepada masyarakat, khususnya warga desa yang belum memahami prosedur administrasi pelayanan kesehatan.
Berangkat dari rasa empati dan semangat gotong royong, Achmad Maimun kemudian membentuk sebuah kelompok relawan yang berfokus pada pendampingan masyarakat kurang mampu di bidang kesehatan. Relawan tersebut membantu berbagai kebutuhan pasien, mulai dari proses administrasi pendaftaran rumah sakit, pendampingan pemeriksaan, hingga pengawalan pasien yang menjalani tindakan medis, termasuk operasi besar seperti tumor maupun hernia.
Tidak hanya itu, ia juga menyediakan kendaraan untuk menjemput dan mengantarkan pasien menuju fasilitas kesehatan. Dalam kondisi darurat, Achmad Maimun bahkan turut berupaya mencarikan pendonor darah bagi pasien yang membutuhkan transfusi secepat mungkin.
Seluruh aktivitas kemanusiaan tersebut dilakukan secara sukarela tanpa mengharapkan keuntungan materi. Baginya, keselamatan dan kesehatan masyarakat merupakan prioritas utama.
“Panggilan kemanusiaan tidak mengenal waktu. Saya siap bergerak kapan saja demi keselamatan sesama,” ujar Achmad Maimun.
Dedikasi tersebut tidak mengenal batas waktu. Ia mengaku kerap menerima panggilan darurat pada dini hari, bahkan sekitar pukul 02.00 WIB, untuk mendampingi warga menuju rumah sakit. Demi memastikan pasien memperoleh pelayanan yang optimal, dirinya tidak jarang harus menginap di rumah sakit dan beristirahat dengan fasilitas seadanya hingga proses pengobatan selesai.
Pengabdian yang dilakukan Achmad Maimun menunjukkan bahwa kepedulian sosial tidak selalu bergantung pada jabatan maupun status sebagai aparatur negara. Sebagai warga biasa, ia mampu menghadirkan pelayanan kemanusiaan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat yang membutuhkan.
Kehadiran relawan seperti Achmad Maimun menjadi potret nyata bahwa nilai kemanusiaan, solidaritas, dan semangat melayani masih tumbuh di tengah masyarakat. Komitmen tersebut diharapkan dapat menginspirasi berbagai elemen, baik pemerintah, organisasi sosial, maupun masyarakat umum, untuk terus memperkuat budaya pelayanan publik yang berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Melalui jargon “Bismillah Melayani”, Achmad Maimun membuktikan bahwa pengabdian kepada sesama tidak selalu diukur dari besarnya fasilitas yang dimiliki, melainkan dari ketulusan hati untuk hadir membantu ketika masyarakat membutuhkan.




