SURABAYA, MPD – Kuliner tradisional Nasi Jagung khas Madura yang dikenal dengan sebutan Babat Pegirian hingga kini tetap diminati banyak orang dan masih mempertahankan eksistensinya di tengah gempuran kuliner modern. Sejak puluhan tahun lalu, sajian nasi jagung khas Madura ini tidak pernah kehilangan peminat dan masih menjadi rujukan utama pecinta kuliner tradisional di Surabaya.
Warung Nasi Jagung Babat Pegirian ini berlokasi di Pasar Pegirian, tepatnya di Jl. Nyamplungan No. 236, Ampel, Kecamatan Semampir, Surabaya, Jawa Timur 60152, yang beroperasi setiap hari sejak pukul 17.00 WIB hingga 02.00 WIB dini hari. Jam operasional tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri, khususnya bagi masyarakat yang mencari kuliner malam dengan cita rasa autentik.
Berdasarkan pantauan media di lokasi warung pada Jumat, 30 Januari 2026, terlihat antrean pembeli tampak berjejer rapi menunggu giliran untuk membeli nasi jagung khas Madura tersebut. Kondisi ini mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap kuliner tradisional yang dinilai mampu mempertahankan kualitas rasa dan nilai budaya lokal.
Baca Juga: Dukung Swasembada Pangan, Polres Sumenep Tanam Jagung Bersama Bhayangkari

Mirah warga Sumenep jauh-jauh datang ke Surabaya untuk membeli nasi jagung babat karena ketagihan, selain dimakan ditempat Mirah yang biasa dipanggil Ira juga membungkus kuliner itu untuk dimakan diperjalanan. Hal itu menunjukkan bahwa kuliner tradisional orang Madura mampu memikat penikmatnya.
Nasi jagung Babat Pegirian dikenal dengan komposisi sederhana namun kaya rasa, berupa nasi jagung yang disajikan hangat-hangat dengan lauk sederhana seperti babat, ikan tongkol, cumi, rengginang udang, sambal khas Madura, serta pelengkap lainnya, mampu memikat citarasa penggemarnya. Karena perpaduan tersebut menghadirkan cita rasa gurih dengan sedikit manis alami beraroma harum jagung asli, dan sambal pedas yang menjadi ciri khas kuliner Madura.
Menariknya, penggemar kuliner ini berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari kalangan pekerja kantoran hingga masyarakat umum. Hal ini menunjukkan bahwa kuliner tradisional Madura ini masih memiliki posisi strategis sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus daya tarik ekonomi kreatif di sektor pangan.
Secara sosiologis, keberlangsungan Nasi Jagung Babat Pegirian mencerminkan kuatnya relasi antara tradisi kuliner dan memori kolektif masyarakat. Kuliner ini tidak hanya berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan konsumsi, tetapi juga sebagai simbol pelestarian kearifan lokal Madura yang mampu beradaptasi dengan dinamika zaman.
Dengan konsistensi rasa, harga yang relatif terjangkau, serta lokasi yang mudah dijangkau, Nasi Jagung Babat Pegirian terus membuktikan bahwa kuliner tradisional Madura ini memiliki daya saing tinggi dan tetap relevan di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat urban.








